PROKLAMASI

PROKLAMASI
INDONESIA

Senin, 14 Juni 2010

Israel dan Dunia Barat Sangat Benci Sekaligus Takut Pada Islam

Sudah mendarah daging dalam diri kita bahwa israel dan dunia barat adalah musuh yang terus memerangi islam. Walaupun dalam berbagai kesempatan mereka selalu berkoar-koar islam bukanlah musuh, tetapi secara sembunyi-sembunyi terus mengadakan propaganda untuk merusak citra islam di mata dunia.

Dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia beberapa tahun silam, dihadapan masa ormas islam, Presiden Iran Mahmud Ahmad Dinejad mengatakan sesungguhnya musuh yang nyata sudah nampak di mata kalian yang terang-terangan memusuhi islam adalah dunia barat dengan kroni-kroninya (zionis). Umat islam tidak akan gentar karena setiap dalam diri pemuda islam adalah nuklir bagi dunia barat.
Omongan itu bukan sambal gertak semata. Seorang dedengkot yahudi dalam statemennya mengatakan bahwa satu hal yang kami takuti dalam islam yang menjadi ancaman suatu hari mendatang. Sesuatu yang membuat kami selalu merasa dalam ancaman dan ketakutan. Hal itu adalah persatuan islam di seluruh dunia seperti yang kalian tunjukan diwaktu sholat berjamaah. Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: 'Dan apabila kamu berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata,...' (QS. 4:102). Rasulullah SAW bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.' (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).

Dari Ibnu Abbas RA berkata: 'Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah SAW). Nabi SAW bangun untuk shalat malam maka aku bangun untuk shalat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau.' (HR. Jama'ah, hadits shahih). Umat Islam harus saling menjaga dan menghormati satu sama lain. 

Perbedaan dalam hal-hal yang tidak prinsip, tidak boleh menjadikan kelompok umat Islam yang satu membenci apalagi menghujat kelompok lainnya. “Yang berjanggut panjang maupun yang janggutnya dibonsai, yang pakai celana setengah kaki maupun tiga perempat kaki, yang pakai jilbab lebar maupun jilbab modis, yang berbusana putih-putih maupun warna lainnya, semauanya adalah saudara. Kita harus menjaga persatuan dan kesatuan umat,” Inilah gambaram ketakutan yang benar-benar menjadi ancaman dunia barat dan kroni-kroninya.

Chicago

Shadr City - Irak

Teheran

Khasmir - India

Iran

Rusia
China
Palestina



Indonesia

Perbedaan sekecil apa pun,bila disikapi dengan jiwa kerdil,dada sempit,sikap egois, dan mau menang sendiri,pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar,sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap tafâhum, dan saling hormat, insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan.

SUARA HATI SEKAR

Jujur, saya tidak memiliki jawaban yang pasti,
Saya HANYA ingin pulang, kembali ke Pangkuan ALLAH …
Yang dapat saya rasakan adalah Kerinduan yang amat sangat….
Sudah bukan waktunya lagi berlari-lari mencari kebahagian versi dunia tentunya…
Yang setelah saya peroleh semuanya …
Lalu saya merasa bahwa bukan ini, dan bukan itu arti bahagia,..
Lalu DIMANA….?
Dan saya mengayunkan langkah untuk mencari ALLAH,
Dan langkah pertama saya adalah mengenakan Jilbab.

Sumber idenya adalah dari sifat romantisme saya,
Jika saya ingin mendekat kepada kekasih saya…
Maka hal pertama adalah saya harus mempercantik diri,
ALLAH menyukai perempuan yang menutup auratnya dengan hijab,
Perhiasan seorang perempuan muslimah adalah akhlaknya yang solehah,
Orang akan langsung mengenali saya bahwa saya adalah muslim karena jilbab saya,
Karena jika tidak maka saya tidak ada bedanya dengan yang bukan …
Iya HANYA ini langkah awal saya…. HANYA ini.

Kemudian tarikan tarikan ALLAH terus membetot ubun-ubun saya…
Untuk melepaskan semua atribut kejahiliahan saya …

TANPA saya sadari…
Saya mulai mencintai hal-hal yang menuju kepada Sang Pemilik napas saya,
Saya terbawa arus kebaikan,
Saya tenggelam di danau pengajian,
Saya terdampar dipadang illalang yang berisi dzikir,
Saya bermahkotakan Al Quran dan Hadits,
Saya tiba-tiba sangat mencintai tahajud,
Saya menjadi seperti penari dalam kalimat taubah dan hamdalah

Dalam proses kemudian…
Saya mulai meninggalkan rok mini saya,
Berhenti memakai tanktop,
Bahkan blus lengan pendek
Apalagi celana pendek saya jauh saya tanggalkan…
Lalu saya mulai berhenti mewarnai dan meluruskan rambut gelombang saya …
Dan entah mengapa saya merasa lebih cantik…
Dengan membuang jauh-jauh pakaian itu,

Sahabat saya bilang :
“De, yang penting kan hati, loe tidak perlu berjilbab pun loe bisa menjadi baik“
Sahabat saya tidak salah …
Tapi untuk saya, jilbab adalah sarat mutlak untuk taat terhadap ALLAH
Dan sifat sosial saya untuk menjaga diri saya terhadap tarikan tarikan mata Lawan Jenis
Bukankah indah akan semakin indah bila tertutup,
Akan menarik jika ia tidak terlihat,
Akan tetap menjadi misteri,
Yang tidak pernah akan selesai kecuali memiliki,
Sesuatu yang tidak bisa disingkap apalagi disentuh akan menimbulkan kerinduan…
Yang tersembunyi dengan baik dan terjaga akan memiliki nilai yang tinggi…
Tanpa hijab, tidak ada daya tarik, tidak ada KERINDUAN…

Bukankah ALLAH adalah misteri,
Dan tersembunyi maka kita semua merindukanNYA,
bisa dibayangkan jika ALLAH terlihat oleh mata dunia kita kan?

Iya, inilah saya yang tidak pernah punya jawaban…
Mengapa saya tiba-tiba kesetrum dan mengenakan jilbab …
Hanya ALLAH yang memiliki jawabannya
Karena saya tidak sanggup menjawab,

Yang pasti ketika kening menyentuh sajadah,
Ketika airmata tumpah saat tahajud,
Ketika tangan terangkat tinggi-tinggi untuk memohon ampunan,
Ketika titik NOL adalah titik kepasrahan saya…
Atas semua yang ALLAH titipkan kepada saya,
Ketika tidak ada lagi jarak antara ALLAH dan saya,
Ketika jilbab saya menutup dada saya,
Ketika rok panjang semata kaki menjadi perhiasan saya kini,
Maka inilah kebahagian yang sesungguhnya saya CARI kemarin …

Doakan saya kuat dan istiqomah dengan langkah yang saya ayunkan ini …
Doakan saya kuat dan istiqomah dengan tarian tanpa topeng ini,
Dengan dawai tasbih dan hamdallah…
Saya ingin berpulang dengan pakaian yang disukai ALLAH

Ya ALLAH kuatkan saya…
Hingga saya menutup mata,
Mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya
Di mahkamah agung milik MU …

Sahabat Perempuanku, kapan lagi Kerinduan Sang Kekasih kita penuhi ? Dia telah memanggil-manggil kita dengan firman-firmanNya yang menentramkan dada, memuaskan akal dan memberi solusi atas segala permasalahan kehidupan :

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan JILBABnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS 33:59)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain KERUDUNG ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24:31)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk MENUTUPI `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian TAKWA itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(QS 7:26-27)

DARI SAHABATMU SEKAR, http://www.rumah-yatim-indonesia.org/

Bintang Velez Sarsfield Ngebet ke Milan

Bintang Velez Sarsfield Ngebet ke Milan

BUENOS AIRES - Bek muda Velez Sarsfield, Nicolas Otamendi membuka pintu selebar-lebarnya kepada AC Milan yang kabarnya berminat menggunakan jasanya. Otamendi mengaku akan sangat senang bisa merumput di tim elit seperti I Rossoneri.
Beberapa waktu lalu, Milan dirumorkan tengah menjajaki peluang mendapatkan Otamendi guna meremajakan lini belakang yang dihuni banyak pemain veteran. Namun, hingga kini kabar tersebut masih sebatas rumor, atau belum ada langkah konkret dari kubu Milan kendati sang pemain telah menyatakan siap menerimanya.
“Jika kabar ketertarikan Milan kepadaku itu benar, itu akan menjadi kehormatan besar buat saya. Rossoneri merupakan salah satu tim terbaik di dunia, dan dihuni sejumlah pemain terbaik macam Ronaldinho, Alessandro Nesta dan masih banyak lagi,” tutur Otamendi seperti dikutip TMW, Jumat (11/6/2010).
“Tapi, hingga saat ini kabar tersebut hanya sebatas rumor yang dihembuskan media dan saya belum menerima tawaran apapun dari Milan. Yang pasti, saya akan sangat senang sekali bisa mengenakan kostum Milan,” tambah bek yang kini tengah memperkuat timnas Argentina di Piala Dunia 2010 ini.
“Bersama Velez, saya mendapat banyak pelajaran dan saya berhutang dengan klub ini. Tetap bertahan di Argentina memang bukan masalah bagi saya, tapi saya ingin tumbuh sebagai pemain yang mampu membuktikan kualitas saya di kancah Eropa,” tutur bek 22 tahun ini.

sumber : okezone.com

Jumat, 11 Juni 2010

Sikap Memaafkan dan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. ( Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Al Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus.
Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan,
mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil.
Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah.
Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.
Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya

Detik - detik Terakhir Kehidupan Baginda Nabi Besar MUHAMMAD RASULULLAH SAW

Sesungguhnya segala puji bagi ALLAH SWT semata, kami memuji-NYA, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepada-NYA. Kami berlindung kepada ALLAH SWT dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.

Saya bersaksi bahwa tiada ILLAAH yang berhak d Iibadahi dengan benar selain ALLAH SWT semata tiada sekutu bagi-NYA, dan Aku bersaksi bahwa RASULULLAH MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah hamba dan utusan-NYA. Shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau, atas keluarga dan segenap sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari Kemudian kelak. Amma ba'du.

Detik-detik Terakhir Kehidupan RASULULLAH SAW

Dari Ibnu Mas’ud ra bahawasanya RASULULLAH SAW bersabda:
Ajalku hampir tiba, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila’la.”
Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya RASULULLAH ?, RASULULLAH menjawab : Salah seorang ahlul baitku (keluargaku).
Kami bertanya : Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya RASULULLAH ?
Baginda menjawab : “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.”
Kami bertanya : “Siapakah yang menSholatkan baginda di antara kami ? ” Kami menangis dan RASULULLAH SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda : “Tenanglah, semoga ALLAH SWT mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama menSholatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah kalian dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula sholat adalah kaum lelaki dari pihak ahlul baitku (keluargaku), kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu sekalian.”

Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan Adzannya, ia berdiri di depan pintu rumah RASULULLAH, kemudian memberi salam:
“Assalamualaikum ya RASULULLAH ?” Kemudian ia berkata lagi “Assholah yarhamukallah.”
Kemudian RASULULLAH SAW memanggil Imam Ali bin Abi Thalib dan Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke Masjid. Baginda Sholat 2 raka'at, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: “Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan ALLAH SWT, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada ALLAH SWT, karena aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”
Malaikat Maut Datang Bertamu

Pada esoknya, yaitu Senin, ALLAH SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui RASULULLAH SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan ALLAH SWT menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa RASULULLAH SAW dengan lemah lembut. Seandainya RASULULLAH SAW menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika RASULULLAH SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja.

Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah ALLAH SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman RASULULLAH SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Fatimah Az- Zahra pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu : “Maafkanlah, Ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani Ayahnya.
Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” Akhirnya RASULULLAH SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah : “Siapakah itu wahai anakku ? ” Fatimah menjawab: “Seorang lelaki, sepertinya baru sekali ini saya melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

RASULULLAH SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia, wahai anakku?” Fatimah menjawab : “Tidak wahai RASULULLAH.” Lalu RASULULLAH SAW menjelaskan sambil menatap wajah anaknya, seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang “Wahai Fatimah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikatul Maut.” Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Kemudian RASULULLAH SAW bersabda : “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan ‘Assalamualaika ya Rasulullah.” RASULULLAH SAW pun menjawab : Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku ?”
Malaikat Maut menjawab : “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika anda izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang.

RASULULLAH SAW bertanya : “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril ? “Saya tinggal dia di langit dunia ” Jawab Malaikat Maut.
Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping RASULULLAH SAW. Maka bersabdalah RASULULLAH SAW : “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat ? Jibril menjawab : Ya, Wahai kekasih ALLAH SWT.”

Ketika Sakaratul Maut Tiba

Seterusnya RASULULLAH SAW bersabda : “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan ALLAH SWT untukku di sisin-NYA ? Jibril pun menjawab; “Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut Rohmu.”
RASULULLAH SAW bersabda : “Segala puji dan syukur bagi TUHANku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: Bahawasanya pintu-pintu Surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan Rohmu.”

RASULULLAH SAW bersabda lagi : “Segala puji dan syukur untuk TUHANku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan ALLAH SWT untukku ? Jibril menjawab : Aku memberikan berita gembira untuk anda wahai kekasih Allah. Engkaulah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”
Kemudian RASULULLAH SAW bersabda : “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk TUHANku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang kabar yang menggembirakan aku?”

Jibril as bertanya : “Wahai kekasih ALLAH SWT, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan ? RASULULLAH SAW menjawab : “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Qur'an sesudahku ? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berPuasa pada bulan Ramadhan sesudahku ? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku ?”
Jibril menjawab : “Saya membawa kabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya ALLAH SWT telah berfirman : Aku telah mengharamkan surga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau (Muhammad) dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.”

Maka berkatalah RASULULLAH SAW : “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku” Lalu Malaikat Maut pun berada dekat RASULULLAH SAW.
Imam Ali , bertanya : “Wahai RASULULLAH SAW, siapakah yang akan memandikan anda dan siapakah yang akan mengafaninya ? RASULULLAH menjawab : Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam surga.

Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa RASULULLAH SAW. Ketika Roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata : “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”
Mendengar ucapan RASULULLAH itu, Fatimah terpejam, Imam Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu RASULULLAH SAW bertanya : “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku ? Jibril menjawab : Wahai kekasih ALLAH SWT, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut ?”

Sebentar kemudian terdengar RASULULLAH memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya ALLAH..., dahsyat nian maut ini,timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan RASULULLAH SAW mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya : “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” (“peliharalah Shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”)
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir RASULULLAH SAW yang mulai kebiruan.“Ummatii,ummatii,
ummatiii” - “Umatku, umatku, umatku”

Fathimah Az-Zahra di masa-masa terakhir Kehidupan RASULULLAH SAW

Di akhir-akhir umurnya RASULULLAH SAW, Fathimah Az- Zahra menatap wajah Ayahnya yang bercahaya dan mengalirkan keringat dingin. Sambil menangis ia menatap ayahnya. Sang ayah tidak tega melihat putrinya menangis dan gelisah. Akhirnya sang ayah membisikkan sebuah ucapan di telinganya sehingga ia tenang dan tersenyum. Senyumnya pada masa-masa krisis seperti itu terlihat sangat aneh. Mereka bertanya kepadanya : “Rahasia apakah yang telah ia ucapkan?” Ia hanya menjawab : “Selama Ayahku hidup aku akan bungkam seribu bahasa”. Setelah RASULULLAH SAW meninggal dunia, ia membongkar rahasia itu. Fathimah berkata : “Ayahku mengatakan kepadaku bahwa engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baitku yang akan menyusulku. Oleh karena itu, aku bahagia”.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rabu, 09 Juni 2010

KETIKA KITA TIDAK BERANI MENANGKAP MEGALOMAN !

Lucu, lucu, lucuuuu banget bagaimana negara kita ini, dimana para Ulamanya ? dimana excutor hukumnya ? dimana kalian para Demonstran ? ketika ada seorang yang jelas-jelas berzina dan disaksikan langsung oleh sekian juta orang , masih juga tidak ditangkap malah mencari-cari para kambing hitam yang gak jelas juntrungannya. Ayoo sahabat-sahabat, saudara-saudara bicaralah dengan lantang sebelum negeri ini akan di adzab untuk yang kesekian kalinya.

Perilaku Pezina seperti ini adalah PENYAKIT YANG MENULAR, bayangkan apa jadinya negeri ini kalau penyakit seperti ini akan menular kepada sekian juta generasi kita.

Ya inilah yang disebut sebagai Penyakit MEGALOMANIA yaitu narsisme atau perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Penderitanya memiliki suatu kecenderungan untuk menilai dirinya secara berlebihan atau menghargai diri melampaui batas, megalomania sebagai bentuk obsesi berlebihan terhadap diri sendiri. Seseorang yang merasa dirinya paling hebat, paling berkuasa dan paling perkasa. Karenanya jika “penyakit” ini diidap Sang Idola, maka dipastikan akan berekses kehancuran. Sebab, pada tahap kritis megalomania dapat membahayakan penderitanya. Sebab keyakinan dirinya yang berlebihan itu, maka ia akan merasa mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia normal.

Misalnya merasa mampu terbang dari gedung bertingkat atau dapat menghentikan kereta api yang sedang melaju kencang hanya dengan satu tangan, termasuk keinginannya meniduri sekian puluh selebritis untuk dipertontonkan kepada dunia sebagai bentuk pamer keperkasaannya. Apa jadinya kalau hal ini menular kepada generasi kita ?

Haruskah kita menunggu Sang Megaloman menyerah dan bertaubat ? seperti kisah Gadis Megaloman dibawah ini ? sungguh lemah sekali iman kita !!!

Seusai sholat tahajud, Wawan membuka jendela kamarnya. Udara segar terasa masuk ke dalam kamar sempitnya. Wawan segera melepas sarung dan baju kokonya dan meletakkannya diatas tempat tidur. Sajadahnya dia lipat dan dimasukkannya ke dalam lemari. Subuh masih sekitar setengah jam lagi. Pikirnya, dari pada tidur lagi, pasti nanti subuhnya malah kebablasan.

Segera matanya tertuju pada rak buku di sebelah almari bajunya. Ya, membaca mungkin solusi yang tepat. Dia tertarik untuk menyelesaikan buku judul “La Tahzan” karya Aidh Al Qarni yang sangat fenomenal sekali. Buku itu sudah lama dibelinya, berhubung tak ada kesempatan untuk membacanya sehingga terbengkalai juga untuk menyelesaikannya.

Baru dapat satu lembar, Wawan dikejutkan oleh munculnya seseorang diluar jendela kamar yang tiba tiba saja meloncat masuk ke dalam kamarnya.

“Eh, apa apaan kamu? Kamu ini siapa?” tanya Wawan gugup.

Orang yang bermasker itu tak berkata apa apa. Saat melihat kolong ranjang yang gelap dan kosong, serta merta dia menyelusup dan bersembunyi disana. Wawan terheran heran melihat tingkah orang aneh itu. Belum sempat keheranannya sirna, sudah dikejutkan suara pistol meletus diluar sana. “Dor… dor… dor!!”

Sambil menahan nafas, Wawan bergegas menutup jendela kamarnya. Sesaat dia terpaku, kemudian mencoba menenangkan pikirannya. Ada apakah gerangan dengan orang aneh ini? Keriuhan diluar sana sudah mereda. Mencium gelagat tak beres, Wawan ingin segera keluar dari kamar. Belum sempat membuka pintu, tamu misterius itu sudah keluar dari kolong ranjang dan menodongkan pistol di dada Wawan.

“Jangan keluar! Atau aku akan membunuhmu.”

“Oke…oke… aku tak akan keluar. Tapi tolong, singkirkan pistolmu dari dadaku.”

“Jangan keras-keras kalau bicara. Nanti mereka tahu. Kalau sampai aku tertangkap oleh polisi itu, suatu saat aku akan mencarimu lagi untuk membunuhmu.” Gertak tamu aneh itu. Wawan mencoba rileks meski jantungnya berdegup kencang. Mimpi apa dia semalam, sampai mendapat situasi yang gawat mencekam. Biasanya seusai tahajud, dia mendapatkan kenyamanan dan ketenangan. Namun tidak kali ini.

Beberapa saat kemudian ketegangan mulai melunak. Wawan mencoba membuka percakapan. “Boleh kan aku duduk? Kita bicarakan baik baik. Oke?” Wawan menarik kursi didekatnya dan kemudian duduk pelan. Tamu itu masih saja menodongkan pistolnya hanya kali ini tidak di dada Wawan.

“Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Wawan membuka pembicaraan

Tamu itu meletakkan pistolnya dan kemudian membuka masker yang menutup wajahnya, topi dan jaket hitamnya. Wawan baru tahu kalau tamu itu adalah seorang…. Gadis cantik! Wawan melongo berada sekamar dengan seorang gadis cantik yang hampir saja membahayakan nyawanya.

“Kamu perempuan?” tanya Wawan keheranan.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Apa yang kamu lakukan pagi buta begini dengan polisi mengejarmu?”

“Kami habis merampok seorang pengusaha kaya. Sebenarnya aku bertiga dengan kawanku. Tapi entah mereka kemana. Mungkin sudah tertembak mati oleh polisi tadi. Tapi sungguh, aku tak ingin mereka mati. Sekarang aku disini. Entah aku akan mati atau tidak, tinggal bagaimana kesepakatan yang kita buat nanti.”

“Jadi?” tanya Wawan bingung.

“Yang jelas, kamu harus menyelamatkanku pagi ini. Aku tak ingin tertangkap. Kalau aku tertangkap, suatu saat nanti aku akan datang lagi kesini untuk membunuhmu.”

Wawan menghela nafas panjang. Ancaman ini tidak main main. “Ya sudahlah… kalau memang ini sudah kehendak Allah, aku akan menolongmu. Kuusahakan sebisaku.”

“Sebentar lagi matahari muncul. Segera cari cara agar aku bisa keluar dari sini!” gertaknya.

Wawan terus memutar otaknya bagaimana agar gadis ini bisa keluar dengan selamat. Akhirnya timbullah ide. “Sebentar lagi subuh dan akan banyak orang yang akan sholat subuh di masjid dekat ujung jalan ini. Kamu pakai saja baju busana muslim adik perempuanku , dan kulihat kamu seukuran dengan adikku. Orang tak akan curiga sama sekali. Bagaimana?”

Gadis itu mengangguk. Sepertinya diapun sudah malas berfikir bagaimana bisa keluar dengan selamat.
Wawan segera mencari baju gamis dan jilbab untuk gadis itu. “Pakai baju ini, tapi satu pesanku, jangan kau gunakan baju ini untuk melakukan perbuatan maksiat. Jangan menutupi kejahatan dengan menggunakan baju ini. Jika kau lakukan, itu sama saja kau menghina agama kami. Bisa kita sepakat dalam hal ini?”

Gadis itu mengangguk lagi. Segera dia memakainya dan keluar dari rumah Wawan dengan selamat.

.........................................

Dua tahun kemudian, di suatu sore Wawan sedang membaca koran sambil minum teh sepulang kerja. Tiba tiba saja ada seorang tamu dengan menggunakan busana muslim lengkap dengan jilbabnya yang putih bersih.

“Assalamu’alaikum,” ucap gadis itu.

“Waalaikum salam,” jawab Wawan dengan gugup karena tiba tiba kedatangan tamu yang cantik sekali.

“Iya. Mbak ini siapa?” Wawan mengamatinya dengan teliti dan berusaha mengingat ingat siapa tamu ini.

Tapi tetap saja tak berhasil mengenalinya.

“Saya cuma mau mengembalikan ini sekalian mau mengucapkan terima kasih yang belum sempat terucapkan.”

Wawan segera membuka bungkusan itu. Matanya terbelalak ternyata isinya baju gamis yang dia pinjamkan kepada seorang gadis yang telah ditolongnya.

“Jadi kamu?”

“Ya. Aku perampok itu mas. Allah telah menyelamatkanku melalui mas. Hari itu, saya tak tahu kenapa, rasanya saya nyaman sekali menggunakan baju itu. Hati ini terasa damai. Bukan karena takut polisi, tapi mungkin saat itulah saya menemukan kesadaran diri saya. Kemudian saya pulang kampung dan tak merampok lagi. Di kampung saya mempelajari ajaran agama yang sempat saya tinggalkan. Dan sekarang, seperti inilah hasilnya.” Jelas gadis itu.

Wawan berkaca kaca mendengarnya. “Alhamdulillah hirobbil alamiin,” hanya itu yang meluncur dari mulut Wawan.

“Sekali lagi trima kasih Mas. Saya mau pamit pulang. Oh iya, lupa… saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Wulan dan saya akan terus berusaha untuk lebih dekat dengan-Nya.” Katanya sambil berlalu pergi.

Wawan pun tersenyum bangga sambil terus mengucapkan tasbih yang tak henti hentinya.

Sahabat, tiada kata terlambat untuk bertaubat dan mengajak orang lain bertaubat, karena Allah adalah Sang Maha Menerima Taubat dan sangat-sangat rindu hamba-hambanya kembali kepangkaunNYA. http://www.rumah-yatim-indonesia.org/